Design Thinking

Kuliah CI kali ini diisi oleh guest lecturer yang sangat inspiratif sekali, Adi Panungtun. Who is he?

Guess what, he is the man behind phenomenal film CIN(T)A, and he is also the producer of production house Sembilan Matahari. Cool right? Dia adalah alumni ITB dan dahulu dia juga merupakan anggota LFM (Liga Film Mahasiswa). Trus dia juga salah satu orang yang terlibat dalam project video mapping di museum fatahillah. Uber cool…

Okee, langsung aja ke isi kuliahnya. Kak Atun (panggilan akrab Adi Panuntun) memberikan materi tentang DESIGN THINKING. Apa itu design thinking? Garis besarnya, desain thinking itu gabungan dari 3 aspek: human interest, business, dan technology. Design Thinking ini bisa digunakan untuk menyelesaikan sebuah masalah dengan kreatif. Design thinking membuat kita berpikir secara kreatif dan out of the box serta menghilangkan rasa takut salah, tidak diterima oleh orang lain, ide yang jelek dan pikiran-pikiran negatif lainnya. Design thinking mengajarkan kita untuk membebaskan kreatifitas kita tanpa batas.

Contoh figure yang menggambarkan penggunaan design thinking adalah Bapak Sosrodjojo (Pemilik & Pendiri Teh Botol Sosro). Kita semua tahu bahwa sekarang ini image teh botol sosro sangat kental dan melekat di masyarakat Indonesia, tapi siapa yang menyangka bahwa dia dulu dianggap gila dan ditertawakan karena idenya untuk menjual teh dalam botol? Pembuatan teh botol sosro ini sangat membantu orang-orang karena kepraktisannya dan dapat diminum kapan saja, dimana saja. Keberhasilan beliau menunjukkan bahwa dia memiliki kemampuan untuk berimajinasi dan memikirkan apa yang orang-orang butuhkan untuk jangka waktu yang panjang.

Contoh perusahaan lain yang berani mendobrak paradigma umum masyarakan dan membuat sesuatu yang innovative adalah Nintendo. Nintendo memdobrak dunia game dengan membuat console yang harus dimainkan dengan gerakan, Nintendo Wii. Nintendo memberikan sesuatu yang yang baru bagi para gamer dan Nintendo ingin membuat pemain terlibat langsung dalam permainan tersebut. Hal ini diapresiasi dengan baik oleh masyarakat karena pada akhirnya pesaing besar nintendo, Sony dan Microsoft membuat product motion-sensing serupa dengan Nintendo Wii.

Kelas yang diberikan Kak Atun sekarang juga memberikan materi tentang perubahan retail marketplace di masa yang akan datang. Perubahan tersebut terdiri dari dua jenis yaitu:

  • Traditional Business Strategy : Pada sistem ini perusahaan menggunakan perhitungan-perhitungan rasional dan analysis yang berdasarkan kuantitas. Penggunaan metode ini akan menghasilkan 1 hasil yang dianggap paling benar sesuai dengan hasil analisanya.
  • Innovation and Design Class : Pada metode ini perusahaan lebih mementingkan poin-poin nyata seperti penelitian lapangan langsung terhadap konsumen dan hal-hal yang lebih bersifat kualitatif. Hasil dari innovation dan design class berkebalikan dengan sebelumnya dimana pada metode ini pengambilan keputusan lebih bersifat subjektif.

Oke. That’s all for Adi Panungtun guest lecture.

Any comments?

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: